Home Improvement

Meski ringan, Bata Ringan untungnya cukup berbobot!!!

hebel

Keinginan banyak orang menggunakan bata ringan atau hebel di kota besar senantiasa bertambah. Product ini jadi incaran kontraktor atau pengembang perumahan. Ada peluang untuk lakukan usaha pembuatan bata ringan dengan modal mudah. Setahun bisa balik modal.

Harga bahan bangunan yang cenderung bertahan tinggi mendorong pengembang yang bangun rumah atau orang yang inginkan merenovasi berupaya mencari langkah agar lebih hemat dan efisien dalam mengeluarkan bujet. Sayang, sedikit penghematan yang bisa ditangani apabila inginkan tetaplah membuat perlindungan kualitas.

Satu di antara langkah penghematan yang bisa ditempuh yaitu tentukan bahan bangunan tipe “baru”. Meskipun harga lebih mahal, biasanya bahan bangunan tipe baru ini menjanjikan efisiensi lebih tinggi dalam proses maupun kepentingan bahan baku pendukung. Rangka atap baja ringan misalnya, kecuali lebih awet kenyataannya bisa diakukan lebih cepat dari pada rangka kayu.

Kecuali rangka atap baja ringan, bata ringan juga jadi idola anyar sebagian pengembang perumahan dan penghobi renovasi rumah. Batu bata mempunyai ukuran lebih daripada batako, berwarna kuasai putih atau krem ini semakin banyak dicari, baik oleh pengembang maupun orang yang inginkan merenovasi atau bangun rumah.

Berbeda dengan batu bata atau batako, ukuran bata ringan ini jauh makin besar. Ukuran bata ringan umumnya 60 cm X 20 cm x 10 cm. Sebagian orang mengatakan bata ringan sebagai habel. Walaupun sesungguhnya, Habel sendiri yaitu nama beton mudah buatan PT Habel Indonesia. Spesifikasi bata ringan dan beton mudah buatan Habel agak lain. Bahan baku Habel yakni pasir silika, batu kapur, dan aluminium slury. Tentang bata ringan menggunakan bahan baku pasir, semen, air, dan zat kimia.

Menurut Syaiful Anam Manajer Pemasaran bata ringan di Sidoarjo, bata ringan baru dikenal di Indonesia dua th. terakhir. Di negara tetangga seperti Malaysia, bata ringan ini sudah dikenal sejak mulai th. 2000.

Walaupun baru dikenal di Indonesia, Junaidi Hasan, Manajer Pemasaran bata ringan di jakarta katakan, hasrat bata ringan cukup berkembang. “Kami sampai kewalahan untuk penuhi hasrat, ” tuturnya. Ia menggambarkan, keseharian, hasrat bata ringan bisa mencapai 220 mtr. kubik (m³). Walaupun sesungguhnya, kekuatan produksi di Pabrik hanya 20 m³/hari.

Permasalahan yang sama juga dihadapi oleh Syaiful yang termasuk juga pemain baru di usaha ini. Sekarang ini kekuatan produksi perusahaannya baru mencapai empat m³/hari. Tetapi, hasrat yang datang bisa sampai 2 x lipat. “Saya baru memulai usaha ini sejak mulai enam bln. lalu, ” cerita dia.

Hasrat bata ringan ini biasanya datang dari kontraktor yang akan bangun perumahan atau kantor dengan tiga sampai empat lantai. Banyak pengembang rumah susun juga mencari bata ringan. Hasrat dari toko material banyak juga.

Biasanya, orang menggunakan bata ringan karna ketekunan ukurannya jauh lebih baik dari pada bata merah. Maklum, system pembuatan bata merah yang tetap masih tradisional buat ukuran bata tidak sama besar. Lain dengan bata ringan yang membuatnya sudah menggunakan mesin, termasuk system cetakannya.

Ukuran bata ringan yang jauh makin besar dari bata merah juga buat system pembangunan lebih cepat. Pengangkutan bata ringan juga lebih lebih mudah karna sudah dikemas dalam jumlah khusus. Selain itu, bangunan yang menggunakan bata ringan biasanya lebih tahan gempa. Menurut Syaiful, bata ringan tahan api empat sampai enam jam, demikian lain dari bata merah yang mudah terbakar.

Margin lumayan

Dengan nilai penjualan yang cukup besar itu, baik Syaiful dan Junaidi mengaku, harga pokok produksi bata ringan itu hanya sekitaran Rp 400. 000 per m³. “Itu sudah termasuk gaji pegawai dan listrik, ” papar Junaidi. Artinya, margin laba dari usaha bata ringan per m³ ini bisa mencapai hampir 40%.

Tetapi, Syaiful mengkalkulasi lebih lebih detail. Menurutnya, margin usaha pembuatan bata ringan itu hanya sekitaran 10% – 15%. “Itu termasuk mengkalkulasi biaya penyusutan mesin produksi, ” papar dia.

Segi lain yang perlu juga dihitung yakni biaya sewa tempat. Junaidi katakan, tempat yang diperlukan untuk buat usaha batu mudah ini minimal 500 mtr. persegi. “Tarif sewanya mungkin saja saja Rp 1 juta – Rp 2 juta per bln., ” kata dia. Tentu, besar kecilnya tergantung tempat yang di ambil.

Produksi bata ringan juga membutuhkan beberapa bahan baku seperti pasir, semen, dan foam concretesebagai generator. Untuk buat 1 m³ bata ringan, butuh pasir beberapa 400 liter, semen 250 kg, danfoam beberapa 1 liter. Foam ini, menurut Junaidi, bisa didapat di internet atau beberapa toko kimia. Anda bisa memakai semua tipe merk semen, termasuk semen curah. Demikian perihal pasir.

Kecuali bahan baku, Anda juga perlu mesin pembuat bata ringan. Ada banyak yang menawarkan mesin pembuat bata ini. Junaidi bercerita, harga satu paket mesin sekitaran Rp 170 juta. “Mesinnya terdapat banyak jenis, ” tutur dia. Ada foam refrigerator, mixer, screen, conveyor, cetakan plastik beberapa 500 set, kompresor, frame cetakan 10 set, dan chem foam agent satu drum (isi 200 liter). Harga itu tetap masih bisa nego lo. Junaidi juga katakan, kecuali jual alat, “Kami juga mengajarkan system produksi pada pemula, ” papar dia.

Syaiful mengaku mengeluarkan modal makin besar untuk memulai usaha pembuatan bata ringan. “Total kepentingan kami bisa mencapai Rp 600 juta-Rp 700 juta, ” papar dia. Beberapa Rp 200 juta satu diantaranya habis untuk beli mesin. Paket alatnya tidak jauh lain dengan yang di menawarkan oleh Junaidi. Sisanya untuk beli tempat dan bahan baku.

Walaupun modal yang butuh disiapkan cukup gede, Junaidi katakan, balik modal usaha ini bisa kurang dari setahun. “Saya memperkirakan, balik modalnya bisa mulai tujuh bln. sampai 13 bln., ” papar dia. Tentu, semua tergantung dari jumlah produksi dan penjualan bata ringan sehari-hari.

Syaiful yang baru memulai usaha selama enam bln. terakhir sudah yakini usahanya bakal balik modal kurang lebih setahun. Maklum, di daerahnya, product bata ringan ini tetap masih belum banyak yang tahu. Alhasil, ada potensi pasar besar walaupun dimuka produksi, mereka harus menggencarkan promosi. Itu juga alasannya dimuka usahanya ini, mereka belum membuahkan begitu banyak.

Tetapi, Syaiful yakini, kurun saat dekat, produknya bakal populer. Sebab, sebagian kontraktor dan pengembang properti mulai mencari alternatif bata ringan yang lebih murah dari product merk popular.

Tinggalkan Balasan

*