Health

Sifilis : Si Peniru yang Ulung

Apa itu Sifilis ?

SIFILIS merupakan sejenis penyakit infeksi kelamin – sexually transmitted infections (STI) yang disebarkan, terutama melalui hubungan seks, bersumber dari sejenis bakteri spirocete yaitu Treponema pallidum. Sifilis juga terkenal dengan julukan ‘Peniru Yang Hebat’ (Great Imitator) karena memiliki gejala yang beragam menyerupai penyakit-penyakit kulit lainnya.

sifilis
Bakteri Treponema pallidum

Gejala dan ciri-ciri sifilis

Di antara penyakit-penyakit STI yang lain seperti gonorrhea, chlamydia, genital herpes, genital wart, hepatitis B dan HIV. Gejala dan ciri penyakit sifilis ini memiliki beberapa tahap ; Tahap pertama (primary syphilis) penyakit ini terjadi pada hari ke-9 sampai 90 setelah infeksi, yaitu akan timbul satu luka (ulkus) kemerahan yang biasanya tidak sakit, tidak gatal pada penis, vagina, anus atau mulut. Ulkus ini disebut primary chancre dan akan hilang dalam waktu tiga sampai enam minggu bahkan tanpa pengobatan, tetapi biasanya pasien tidak melihat kehadiran chancre karena tidak merasa sakit bahkan pada masa sama kelenjar limfa mungkin membengkak.

Sementara, pada tahap kedua, (secondary syphilis) itu terjadi pada minggu keenam sampai enam bulan setelah infeksi. Ketika ini, ruam akan muncul pada bagian tubuh termasuk telapak tangan dan kaki, bahkan ulkus juga dapat timbul pada bibir, mulut, tenggorokan, vagina serta dubur selain turut mendapat gejala seperti flu, demam dan sakit badan yang mungkin terjadi.

Jika pasien masih tidak melakukan pengobatan, penyakit ini akan merembet sampai ke tingkat paling serius (tertiary syphilis). pada tahap ini, kuman sifilis telah menyebar ke seluruh tubuh dan pada saat sama akan menyerang otak, jantung, saraf tulang belakang dan tulang. Efek samping lain juga terjadi antaranya sulit berjalan atau lumpuh, mati rasa, buta secara berangsur, kejang, pikun dan dapat menyebabkan kematian dengan tingkat mortalitas sebanyak delapan sampai 58 persen.

Remaja lebih rentan

Biasanya penyakit ini terjadi pada kaum remaja dan pemuda yaitu antara usia 15 sampai 40 tahun karena mereka lebih rentan terhadap seks bebas, bertukar pasangan serta tidak mengamalkan seks secara aman.   Dalam soal ini , rasio golongan pria dua sampai enam kali lebih banyak terinfeksi dibandingkan perempuan karena ada di antaranya melakukan seks sesama pria (homoseksual) yang mendorong risiko tinggi terinfeksi sifilis.

Skrining awal

Dalam upaya pengobatan sifilis, tidak dipungkiri sifilis adalah penyakit yang dapat disembuhkan dengan mengambil antibiotik yang paling efektif yaitu suntikan penisilin pada pasien sifilis yang didiagnosis. Namun ada beberapa jenis antibiotik oral alternatif bagi pasien yang memiliki sejarah alergi terhadap penisilin atau pasien yang tidak mau menerima suntikan.

Namun, sebagai langkah pencegahan, cara paling baik adalah dengan menghindari diri dari hubungan seks , tetapi jika masih aktif melakukan seks, amalkan hubungan seks yang aman, setia pada satu pasangan yang tidak terinfeksi, menggunakan kondom setiap kali melakukan seks serta hindari konsumsi alkohol atau narkoba. Sehubungan dengan itu, saringan awal harus dilakukan terhadap beberapa golongan berisiko untuk mendeteksi sifilis. Antaranya, ibu hamil pada kunjungan kali pertama dan minggu ke-28 kehamilan, homoseksual, penderita HIV, kasus konteks (pasangan pasien), bayi lahir ibu yang terinfeksi sifilis serta golongan yang berisiko tinggi lain seperti pekerja seks dan narkoba. Konseling dan pendidikan juga sangat penting untuk mengungkapkan kepada segenap lapisan masyarakat sehubungan penyakit sifilis.

Testimoni Pasien Sifilis tertular dari suami

Pertama kali menemukan alat kelamin menjadi semakin serius dengan luka (lecet) dan kemerahan serta bernanah, saya mulai mencurigai sesuatu yang buruk sedang terjadi pada diri saya . ketika itu suami mulai menjauhkan diri dari saya meskipun dia seorang yang aktif seks sehingga sering kali kami ‘bersama’ ketika saya datang bulan. awalnya saya merasa sangat malu untuk ke dokter, tetapi ketika luka yang disertai nanah semakin parah pada kemaluan, akhirnya saya mengambil keputusan untuk menemui dokter dan mengkonfirmasi saya mengidap sifilis.

Ketika dokter menjelaskan penyebab penyakit ini dan mendapatkan informasi melalui internet, saya mulai bertanya pada diri, apakah semua itu melibatkan suami yang sering bertukar pasangan. saya memberanikan diri menanyakan kepada suami dan jawaban yang saya terima cukup menyedihkan ketika suami sendiri mengakui bahwa dia memang curang di belakang saya dan karena sikapnya yang suka bertukar pasangan serta bersama saya ketika dalam keadaan ‘kotor’, penyakit ini terkena pada saya. Untungnya, saya cepat melakukan pemeriksaan dan sekarang saya bebas dari semuanya termasuk suami yang menceraikan saya karena saya tidak sanggup lagi hidup bersamanya akibat kecurangan itu. di sini, saya ingin menyarankan wanita di luar sana, supaya lebih berhati-hati dalam memilih pasangan hidup, carilah yang bisa dipercaya serta setia. – Nani, 31. Bersama petugas Medis Rumah Sakit Sultanah Nur Zahirah, Terengganu, Dr Puteri Wan Seribani Mat Daud.

Tinggalkan Balasan